BAB I
- Latar Belakang
Kita
telah mengetahui bahwa orang dalam berhubungan dengan orang lain tidak hanya
berbuat begitu saja, tetapi juga menyadari perbuatan yang dilakukan dan
menyadari pula situasi yang ada sangkut pautnya dengan perbuatan itu. Kesadaran
ini tidak hanya mengenai tingkah laku yang sudah terjadi, tetapi juga tingkah
laku yang mungkin akan terjadi. Kesadaran individu yang menentukan perbuatan
nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi inilah yang dinamika
SIKAP. Jadi sikap ialah suatu hal yang menentukan sifat, hakikat, baik
perbuatan sekarang maupun perbuatan yang akan datang.
Oleh
karena itu ahli psikologi W.J. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu
kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang
mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Dalam
hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap
sesuatu hal atau suatu objek tertentu. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa
objek.
- Rumusan Masalah
- Apa pengertian dari sikap?
- Bagaimana sikap dapat terbentuk atau berubah?
- Apa saja faktor-faktor yang menpengaruhi sikap?
- Sebutkan teori-teori dalam sikap!
- Apa saja yang menjadi indikator dalam sikap?
BAB
II
PEMBAHASAN
- Pengertian sikap
Sikap
adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam
kegiatan-kegiatan social.[1]sikap
adalah pengalaman tentang suatu masalah atau objek dari sisi dimensi penilaian.[2]
Sikap
adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman
yang memberikan pengaruh dinamika atau terarah terhadap respon individu pada
semua objek dari situasi yang berkaitan denganya.[3]
Sikap
adalah evaluasi terhadap objek, isu, atau orang.[4]sikap
yang ada pada seseorang akan memberikan warna atau corak pada prilaku atau
perbuatan orang yang bersangkutan. Dengan mengetahui sikap seseorang orang
dapat menduga bagaimana respon atau prilaku yang akan diambil oleh orang yang
bersangkutan, terhadap sesuatu masalah atau keadaan yang dihadapkan kepadanya.
Jadi dengan mengetahui sikap seseorang, orang akan mendapatkan
gambarankemungkinan prilaku yang timbul dari orang yang bersangkutan. Keadaan
ini menggambarkan hubungan sikap dan prilaku.[5]
Sikap adalah kecenderungan bertindak terhadap rangsangan yang datang dari
lingkungan sosial seorang subyek. Kecenderungan itu dapat bersifat positif yang
berupa perilaku menerima obyek maupun negatif yang berupa perilaku menolak
obyek.[6]
Sikap
terhadap obyek, gagasan atau orang tertentu merupakan orientasi yang bersifat
menetap dengan komponen-komponen kognitif afektif. Perilaku komponen kognitif
terdiri dari kognisi yang dimiliki seseorang mengenai obyek sikap tertentu,
fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek. Komponen efektif terdiri dari
seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap obyek, terutama penilaian.
Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau
kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek.[7]
Sikap
terbentuk melalui bermacam-macam cara diantaranya :
- Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan mendalam (pengalaman traumatik).
- Melalui imitasi, peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja.
- Melalui sugesti, di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandanganya.
- Melalui identifikasi, disini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya. Identifikasi seperti ini sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan pemimpin, siwa dengan guru.[8]
- Faktor- Faktor yang mempengaruhi Sikap
Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap
1)
Faktor intern: yaitu manusia itu sendiri.
2)
Faktor ekstern: yaitu faktor manusia.
Dalam
hal ini Sherif mengemukakan bahwa sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila:
a.
Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia.
b.
Adanya komunikasi (yaitu hubungan langsung) dan satu pihak.
a)
Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang
lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komoponen sosial yang ikut
mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang kita
harapkan persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang
yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita
akan mempengaruhi pembentkan sikap kita terhadap sesuatu. Contoh : Orang tua,
teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami dan lain-lain.
b) Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan
dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan
sikap kita.
c) Media massa
Sebagai
sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat
kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini
dan kepercayaan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan
kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
d) Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga
pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam
pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep
moral dalam arti individu.
e) Pengaruh faktor emosional
Tidak
semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi
seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang
didasari oleh emosi yang berfungsi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi
atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.[9]
- Teori-teori dalam sikap
Ada
beberapa teori yang membantu kita untuk memahami bagaimana sikap dibentuk dan
bagaimana sikap dapat berubah. Teori – teori tersebut tidak selalu bertentangan
satu sama lain. Adapun teori – teori yang dimaksud yaitu :
1.
Teori belajar
Teori
ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Hovland dan rekannya. Asumsi di balik
teori ini adalah bahwa proses pembentukan sikap sama seperti pembentukan
kebiasaan. Orang mempelajari informasi dan fakta tentang objek sikap yang
berbeda – beda dan mereka juga mempelajari perasaan dan nilai yang
diasosiasikan dengan fakta itu (Taylor, 2009).
Teori
ini banyak menggunakan prosedur classical conditioning (Arthur Staats). Menurut
Staats, banyak sikap yang terbentuk secara classical conditioning. Keutamaan
classical conditioning sebagai suatu mekanisme bagi pembentukan sikap terletak
pada kenyataan bahwa melalui classical conditioning, individu akan dapat
mempunyai reaksi – reakasi sikap yang kuat terhadap objek – objek sosial bahakn
tanpa pengalaman langsung. Misalnya, seorang anak sejak kecil sudah diajari
bahwa musik klasik adalah musik yang membosankan. Maka anak tersebut akan
mengimplementasikan informasi yang diterimanya dan membentuk sebuah sikap
secara tidak langsung terhadap musik klasik tersebut. Anak tersebut akan
langsung menggambarkan musik klasik sebagai musik yang membosankan. Pemikiran
ini terus berkembang sampai nanti anak tersebut dewasa. Musik klasik akan tetap
menjad musik yang membosankan untuknya.
Proses
belajar dasar juga berlaku untuk proses pembentukan sikap, yang dapat dilakukan
melalui beberapa cara, yaitu :
a.
Association (asosiasi), yaitu penghubung dalam memori antara stimulus yang
saling berkaitan. Misalnya, guru sejarah menceritakan tentang peristwa G30S /
PKI dengan nada marah dan penuh permusuhan, kita akan membuat asosiasi antara
perasaan negatif dengan kata “PKI”.
b.
Reinforcement (penguatan), yaitu proses yang dilakukan seseorang dalam belajar
menunjukkan respons tertentu setelah ia diberi imbalan saat ia menunjukkan
respons itu. Misalnya, saat kita mendapat nilai A pada mata kuliah Psikologi
Sosial dan gembira karenanya, maka tindakan untuk mengikuti kelas psikologi
sosial akan diperkuat, dan kita kemungkinan besar akan semakin tertarik untuk
mendalami ilmu psikologi di masa mendatang, begitu pula sebaliknya.
c.
Imitation (peniruan), yaitu bentuk belajar yang melibatkan pemikiran,
perasaaan, atau perilaku dengan cara meniru pemikiran, perasaan, dan perilaku
orang lain. Misalnya, anak – anak cenderung meniru sikap dan perilaku orang
tuanya sewaktu kecil.
d.
Message learning (belajar pesan), yaitu ide bahwa perubahan sikap tergantung
pada proses belajar indvidu terhadap isi dari komunikasi.
e.
Transfer of effect (transfer efek), yaitu mengubah sikap dengan memindahkan
efek yang disosialisasikan dengan objek lain. Misalnya, mobil yang dipasangkan
dengan wanita cantik akan membuat kita percaya bahwa mobil itu bagus dan
memiliki mobil itu akan membuat kita mendapatkan penghargaan sosial. Dengan
kata lain, orang mengtransfer perasaan atau afek yang mereka rasakan tentang satu
objek ke objek lain.[10]
2.
Teori konsistensi kognitif
Teori
ini berfokus pada keberadaaan sikap sesuai satu sama lainnya atau dengan sikap
– sikap yang lain. Teori ini memandang manusia sebagai pemroses informasi yang
aktif yang mencoba memahami seluruhnya atas apa yang mereka rasakan, pikirkan,
dan berbuat dimana mereka secara aktif menyusun dan menafsirkan dunia tersebut
untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi yang bisa terjadi di antara dan
dalam sikap – sikap.
Ada
beberapa teori spesifik yang menekankan arti penting dalam konsistensi
kognitif, antara lain:
a.
Teori keseimbangan
Pada
dasarnya teori ini berkaitan dengan bagaimana sikap kita berkenaan dengan orang
– orang dan objek sikap yang konsisten. Teori ini melibatkan tiga elemen, yaitu
: perceiver, orang lain, dan objek lain. Ketiga elemen tersebut membentuk suatu
kesatuan, dimana elemen – elemen tersebut bisa membentuk suatu kombinasi yang
menghasilkan hubungan seimbang / tidak seimbang. Kondisi yang tidak seimbang
akan menimbulkan ketegangan (tension) dan timbullah tekanan yang mendorong
untuk megubah organisasi kognitif sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan
seimbang (Dayaksini, 2003).
b.
Teori disonansi kognitif
Disonansi
didefinisikan sebagai keadaan motivasional aversif yang terjadi saat beberapa
perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan sikap kita. Disonansi selalu
muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak selaras itu adalah penting
bagi diri kita (Aranson, 1968 ; Stone & Cooper, 2001).
Fokus
dari teori ini adalah individu, yang menyelaraskan elemen-elemen kognisi,
pemikiran atau struktur. Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi
jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan.
Misalnya, seorang perokok yang mengerti bahwa merokok dapat mengakibatkan
penyakit kanker. Kognisi : “saya seorang perokok” tidak sesuai dengan kognisi
“merokok dapat mengakibtakan penyakit kanker”, karena itu membuat keadaan
disonansi.
Disonansi
menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang mendorong seseorang mengurangi
disonansi tersebut. Pengurangan disonansi dapat melalui tiga cara, yaitu :
1) Mengubah
elemen tingkah laku
Misalnya,
seorang perokok yang mengetahui bahaya merokok yang dapat mengakibatkan
penyakit kanker. Maka untuk menghilangkan disonansi, perokok itu berusaha tidak
merokok lagi.
2) Mengubah elemen kognitif lingkungan
Misalnya,
perokok itu meyakinkan teman – temannya / saudara – saudaranya bahwa merokok
itu tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.
3) Menambah elemen kognitif baru
Misalnya,
mencari pendapat teman lain yang mendukung pendapat bahwa merokok tidak akan mengakibatkan
penyakit kanker.[11]
3.
Teori persepsi diri
Teori
ini berfokus pada individu yang mengetahui akan sikapnya dengan mengambil
kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi.
Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan
kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.
Misalnya,
seseorang yang awalnya tidak bisa memasak tapi ia memasak setiap ada kesempatan
dan ia baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak.[12]
4.
Teori presentasi diri
Menurut
teori ini, orang memiliki sutau kebutuhan untuk mengabsahkan aspek – aspek
penting dari konsep dirinya, terutama jika konsep dirinya terancam. Teori ini
secara aktif mengelola self – image atau kesan yang mereka berikan kepada orang
lain.[13]
5.
Teori ekspektasi nilai
Teori
ini mengasumsikan bahwa orang mengadopsi posisi (pandangan) berdasarkan
penilaian pro dan kontra (untung – rugi), yakni berdasarkan nilai yang mereka
berikan pada kemungkinan efeknya. Menurut teori ini, dalam pengadopsian sikap,
orang cenderung memaksimalkan penggunaan subjektif atas berbagai hasil yang
diperkirakan, yang merupakan produk dari nilai hasil tertentu dan pengharapan
(ekspetandi) bahwa posisi ini akan menimbulkan hasil yang bagus itu. Misalnya,
Anda akan menentukan apakah Anda akan mendatangi pesta teman Anda nanti malam
atau belajar di rumah. Anda mungkin memikirkan berbagai macam akibat atau
kegiatan jika pergi ke pesta, nilai tentang akibat itu, dan pengharapan tentang
akibat atau hasil itu.
Ringkasnya,
teori ekspetansi nilai melihat pada keseimbangan insentif dan memprediksikan
bahwa dalam situasi di mana ada tujuan yang saling bertentangan, orang akan
memilih posisi yang memaksimalkan keuntungan buat mereka. Teori ini
mengasumsikan bahwa orang adalah pembuat keputusan yang penuh perhitungan,
aktif, dan rasional (Sears, 2009).[14]
Dilihat
dari strukturnya, sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang, yaitu
:[15]
1.
Komponen Kognitif
Komponen
ini berisi persepsi, kepercayaan dan stereotype (sesuatu yang telah terpolakan)
yang dimiliki individu mengenai sesuatu.
Mengapa
orang percaya atau mempunyai kepercayaan ?
Kepercayaan
dating dari apa yang telah kita lihat/ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita
lihat itu, kemudian terbentuk suatu ide/gagasan mengenai sifat umum suatu
obyek. Karena itulah kita percaya; misalnya burung dapat bertelur, sekali
kepercayaaan itu telah terbentuk, maka ia akan manjadi dasar pengetahuan
seseorang mengenai apa yang diharapkan dan apa yang tidak diharapkan dari obyek
tertentu.
Kepercayaanlah
yang menyederhanakan dan mengatur apa yang kita lihat dan temui.
Contoh
:
Durhaka
pada orang tua sebagai obyek sikap. Komponne kognitif sikap berupa kepercayaan
atau stereotype bahwa durhaka pada orang tua adalah berdosa atau tidak baik.
2.
Komponen Afektif
Merupakan
perasaan individu terhadap obyek sikap, obyek dapat dirasakan menyenangkan atau
tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai dsb.
Apakah
yang menentukan reaksi emosional kita terhadap suatu obyek sikap? Jawabannya
adalah banyak ditentukan oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai
benar obyek tersebut.
Contoh
:
Bila
kita percaya bahwa durhaka pada orang tua itu dosa; maka akan terbentuk
perasaan tidak suka terhadap perbuatan tersebut.
3.
Komponen Perilaku/Konatif
Menunjukkan
bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada pada diri seseorang
berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya.
Asumsi
dasarnya adalah bahwa kepercayaan dan perasaan mempengaruhi perilaku.
Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan
perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu adalah logis untuk
mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk perilaku
terhadap obyek.
Contoh
:
Kita
percaya durhaka pada orang tua itu dosa dan tidak baik maka kita tidak akan
suka akhirnya kita tidak mau berbuat seperti itu.
Salah-satu
aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku manusia adalah
masalah pengungkapan (assement) atau pengukuran (measurement)
sikap. Dalam sikap terdapat :
1) Sikap mempunyai
arah, artinya sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau
tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak
memihak terhadap sesuatu seseorang sebagai objek.
2) Sikap memiliki
intensitas, artinya kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu
sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
3) Sikap mempunyai
keluasaan,maksudnya kesetujuan atu ketidaksetujuan terhadap suatu obyek sikap
dapat mengenai hanya yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat
mencakup banyak sekali aspek yang ada dalam obyek sikap.
4) Sikap juga
memiliki konsistensi, maksudnya kesesuaian antara pernyataan sikap yang
dikemukakan dengan responsnya terhadap objek sikap tersebut.
5) Sikap yang
memiliki spontanitas, artinya menyangkut sejauhmana kesiapan individu untuk
menyatakan sikapnya secara spontan.[16]
D. Ciri-ciri (indikator) dari Sikap
Sikap merupakan
faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan
perilaku yang tertentu. Walaupun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan
dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri manusia itu. Oleh karena
itu untuk membedakan sikap dengan pendorong-pendorong yang lain, ada beberapa
ciri atau dari sifat dari sikap tersebut. Adapun ciri-ciri sikap itu adalah :
- Sikap itu tidak dibawa sejak lahir
Ini berarti bahwa manusia pada waktu
dilahirkan belum membawa sikap-sikap tertentu terhadap sesuatu objek. Karena
sikap tidak dibawa sejak indiviu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu
terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena sikap itu
terbentuk dan di bentuk, maka sikap itu dapat di pelajari, dan karenanya sikap
itu dapat berubah. Walaupun demikian sikap itu mempunyai kecenderungan adanya
sifat yang agak tetap.
Karena sikap itu tidak dibawa sejak
lahir, maka sikap sebagai daya dorong akan berbeda dengan motif biologis yang
juga sebagai daya dorong, karena yang akhir ini telah ada sejak individu
dilahirkan sekalipun motif tersebut dalam manifestasinya mengalami
perubahan-perubahan.
- Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap
Oleh karena itu sikap selalu
terbentuk atau I pelajari dalam hubunganya dengan objek-objek tertentu, yaiu
melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau
negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu
pula dari individu terhadap objek tersebut.
- Sikap dapat tertuju pada satu objek satu aja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek
Bila seseorang mempunyai sikap yang
negatif pada seseorang, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk
menunjukkan sikap yang negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut
tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk
menggeneralisasikan objek sikap.
- Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Kalau sesuatu sikap telah terbentuk
dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu
akan lama bertahan pada diri orang yang bersangkutan. Sikap tersebut akan sulit
berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama.
Tetapi sebaliknya bila sikap itu belum begitu mendalam ada dalam diri
seseorang, maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap
tersebut akan mudah berubah.
- Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi
Ini berarti bahwa sikap terhadap
sesuatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat
bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang
tidak menyenangkan) terhadap objek tersebut. Disamping itu sikap juga
mengandung motivasi, ini berarti bahwa sikap itu mempunyai daya dorong bagi
individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek yang dihadapinya[17]
Ciri-ciri tersebut diatas merupakan ciri-ciri
sikap yang adapat di gunakan untuk membedakan sikap dengan pendorong-pendorong
lain yang ada dalam diri manusia.
[1]
Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta
: Rineka Cipta, 2003)hlm. 161
[2]
Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung : CV Pustaka
Setia 2003) hlm. 355.
[3]
Diterjemahkan Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno, Psikologi Social (Social Psichology), (Jakarta : Erlangga, 1985)hlm. 137
[4]
Shelley E Taylor dkk, Psikologi Sosial, (Jakarta
: Kencana, 2009)
[5]
Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : CV Andi
Offset 2003)hlm. 123
[7]
ibid
[8]Slameto,
Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka
Cipta, 2003)hlm. 189
[9]http://lalisnurhayatiii.blogspot.com/2013/05/psikologi-sosial-tentang-sikap.html
(di akses 08 Desember 2013)
[10]
http://fennywongso.wordpress.com/category/psikologi-sosial/(di
akses 08 Desember 2013).
[11]
Ibid.
[12]
Ibid.
[13]
Ibid.
[14]
Ibid.
[15]
http://himcyoo.wordpress.com/2011/02/22/pengukuran-sikap-attitude/
[16]http://sinausosiologi.blogspot.com/2010/06/makalah-pengukuran-sikap-i.html
(diakses 08 Desember 2013)
[17]
Bimo Walgito. Psikologi Sosial (suatu pegantar), (Yogyakarta :CVAndi
Offset)hlm. 131.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar