Selasa, 10 Desember 2013

psikologi sosial tentang sikap

BAB I
  1. Latar Belakang
Kita telah mengetahui bahwa orang dalam berhubungan dengan orang lain tidak hanya berbuat begitu saja, tetapi juga menyadari perbuatan yang dilakukan dan menyadari pula situasi yang ada sangkut pautnya dengan perbuatan itu. Kesadaran ini tidak hanya mengenai tingkah laku yang sudah terjadi, tetapi juga tingkah laku yang mungkin akan terjadi. Kesadaran individu yang menentukan perbuatan nyata dan perbuatan-perbuatan yang mungkin akan terjadi inilah yang dinamika SIKAP. Jadi sikap ialah suatu hal yang menentukan sifat, hakikat, baik perbuatan sekarang maupun perbuatan yang akan datang.
Oleh karena itu ahli psikologi W.J. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek.
  1. Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian dari sikap?
  2. Bagaimana sikap dapat terbentuk atau berubah?
  3. Apa saja faktor-faktor yang menpengaruhi sikap?
  4. Sebutkan teori-teori dalam sikap!
  5. Apa saja yang menjadi indikator dalam sikap?

BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian sikap
Sikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatan-kegiatan social.[1]sikap adalah pengalaman tentang suatu masalah atau objek dari sisi dimensi penilaian.[2]
Sikap adalah keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamika atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dari situasi yang berkaitan denganya.[3]
Sikap adalah evaluasi terhadap objek, isu, atau orang.[4]sikap yang ada pada seseorang akan memberikan warna atau corak pada prilaku atau perbuatan orang yang bersangkutan. Dengan mengetahui sikap seseorang orang dapat menduga bagaimana respon atau prilaku yang akan diambil oleh orang yang bersangkutan, terhadap sesuatu masalah atau keadaan yang dihadapkan kepadanya. Jadi dengan mengetahui sikap seseorang, orang akan mendapatkan gambarankemungkinan prilaku yang timbul dari orang yang bersangkutan. Keadaan ini menggambarkan hubungan sikap dan prilaku.[5] Sikap adalah kecenderungan bertindak terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan sosial seorang subyek. Kecenderungan itu dapat bersifat positif yang berupa perilaku menerima obyek maupun negatif yang berupa perilaku menolak obyek.[6]
Sikap terhadap obyek, gagasan atau orang tertentu merupakan orientasi yang bersifat menetap dengan komponen-komponen kognitif afektif. Perilaku komponen kognitif terdiri dari kognisi yang dimiliki seseorang mengenai obyek sikap tertentu, fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek. Komponen efektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap obyek, terutama penilaian. Komponen perilaku terdiri dari kesiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek.[7]
Sikap terbentuk melalui bermacam-macam cara diantaranya :
  1. Melalui pengalaman yang berulang-ulang, atau dapat pula melalui suatu pengalaman yang disertai perasaan mendalam (pengalaman traumatik).
  2. Melalui imitasi, peniruan dapat terjadi tanpa disengaja, dapat pula dengan sengaja.
  3. Melalui sugesti, di sini seseorang membentuk suatu sikap terhadap objek tanpa suatu alasan dan pemikiran yang jelas, tapi semata-mata karena pengaruh yang datang dari seseorang atau sesuatu yang mempunyai wibawa dalam pandanganya.
  4. Melalui identifikasi, disini seseorang meniru orang lain atau suatu organisasi badan tertentu didasari suatu keterikatan emosional sifatnya. Identifikasi seperti ini sering terjadi antara anak dengan ayah, pengikut dengan pemimpin, siwa dengan guru.[8]
  1. Faktor- Faktor yang mempengaruhi Sikap
 Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap
1) Faktor intern: yaitu manusia itu sendiri.
2) Faktor ekstern: yaitu faktor manusia.
Dalam hal ini Sherif mengemukakan bahwa sikap itu dapat diubah atau dibentuk apabila:
a. Terdapat hubungan timbal balik yang langsung antara manusia.
b. Adanya komunikasi (yaitu hubungan langsung) dan satu pihak.
a) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komoponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita akan mempengaruhi pembentkan sikap kita terhadap sesuatu. Contoh : Orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami dan lain-lain.
b)      Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.
c)      Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.
d)     Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam arti individu.
e)      Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.[9]
  1. Teori-teori dalam sikap
Ada beberapa teori yang membantu kita untuk memahami bagaimana sikap dibentuk dan bagaimana sikap dapat berubah. Teori – teori tersebut tidak selalu bertentangan satu sama lain. Adapun teori – teori yang dimaksud yaitu :
1. Teori belajar
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Carl Hovland dan rekannya. Asumsi di balik teori ini adalah bahwa proses pembentukan sikap sama seperti pembentukan kebiasaan. Orang mempelajari informasi dan fakta tentang objek sikap yang berbeda – beda dan mereka juga mempelajari perasaan dan nilai yang diasosiasikan dengan fakta itu (Taylor, 2009).
Teori ini banyak menggunakan prosedur classical conditioning (Arthur Staats). Menurut Staats, banyak sikap yang terbentuk secara classical conditioning. Keutamaan classical conditioning sebagai suatu mekanisme bagi pembentukan sikap terletak pada kenyataan bahwa melalui classical conditioning, individu akan dapat mempunyai reaksi – reakasi sikap yang kuat terhadap objek – objek sosial bahakn tanpa pengalaman langsung. Misalnya, seorang anak sejak kecil sudah diajari bahwa musik klasik adalah musik yang membosankan. Maka anak tersebut akan mengimplementasikan informasi yang diterimanya dan membentuk sebuah sikap secara tidak langsung terhadap musik klasik tersebut. Anak tersebut akan langsung menggambarkan musik klasik sebagai musik yang membosankan. Pemikiran ini terus berkembang sampai nanti anak tersebut dewasa. Musik klasik akan tetap menjad musik yang membosankan untuknya.
Proses belajar dasar juga berlaku untuk proses pembentukan sikap, yang dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu :
a. Association (asosiasi), yaitu penghubung dalam memori antara stimulus yang saling berkaitan. Misalnya, guru sejarah menceritakan tentang peristwa G30S / PKI dengan nada marah dan penuh permusuhan, kita akan membuat asosiasi antara perasaan negatif dengan kata “PKI”.
b. Reinforcement (penguatan), yaitu proses yang dilakukan seseorang dalam belajar menunjukkan respons tertentu setelah ia diberi imbalan saat ia menunjukkan respons itu. Misalnya, saat kita mendapat nilai A pada mata kuliah Psikologi Sosial dan gembira karenanya, maka tindakan untuk mengikuti kelas psikologi sosial akan diperkuat, dan kita kemungkinan besar akan semakin tertarik untuk mendalami ilmu psikologi di masa mendatang, begitu pula sebaliknya.
c. Imitation (peniruan), yaitu bentuk belajar yang melibatkan pemikiran, perasaaan, atau perilaku dengan cara meniru pemikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Misalnya, anak – anak cenderung meniru sikap dan perilaku orang tuanya sewaktu kecil.
d. Message learning (belajar pesan), yaitu ide bahwa perubahan sikap tergantung pada proses belajar indvidu terhadap isi dari komunikasi.
e. Transfer of effect (transfer efek), yaitu mengubah sikap dengan memindahkan efek yang disosialisasikan dengan objek lain. Misalnya, mobil yang dipasangkan dengan wanita cantik akan membuat kita percaya bahwa mobil itu bagus dan memiliki mobil itu akan membuat kita mendapatkan penghargaan sosial. Dengan kata lain, orang mengtransfer perasaan atau afek yang mereka rasakan tentang satu objek ke objek lain.[10]
2. Teori konsistensi kognitif
Teori ini berfokus pada keberadaaan sikap sesuai satu sama lainnya atau dengan sikap – sikap yang lain. Teori ini memandang manusia sebagai pemroses informasi yang aktif yang mencoba memahami seluruhnya atas apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan berbuat dimana mereka secara aktif menyusun dan menafsirkan dunia tersebut untuk membuat kecocokan terhadap inkonsistensi yang bisa terjadi di antara dan dalam sikap – sikap.
Ada beberapa teori spesifik yang menekankan arti penting dalam konsistensi kognitif, antara lain:
a. Teori keseimbangan
Pada dasarnya teori ini berkaitan dengan bagaimana sikap kita berkenaan dengan orang – orang dan objek sikap yang konsisten. Teori ini melibatkan tiga elemen, yaitu : perceiver, orang lain, dan objek lain. Ketiga elemen tersebut membentuk suatu kesatuan, dimana elemen – elemen tersebut bisa membentuk suatu kombinasi yang menghasilkan hubungan seimbang / tidak seimbang. Kondisi yang tidak seimbang akan menimbulkan ketegangan (tension) dan timbullah tekanan yang mendorong untuk megubah organisasi kognitif sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan seimbang (Dayaksini, 2003).
b. Teori disonansi kognitif
Disonansi didefinisikan sebagai keadaan motivasional aversif yang terjadi saat beberapa perilaku yang kita lakukan tidak konsisten dengan sikap kita. Disonansi selalu muncul terutama jika sikap dan perilaku yang tak selaras itu adalah penting bagi diri kita (Aranson, 1968 ; Stone & Cooper, 2001).
Fokus dari teori ini adalah individu, yang menyelaraskan elemen-elemen kognisi, pemikiran atau struktur. Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan. Misalnya, seorang perokok yang mengerti bahwa merokok dapat mengakibatkan penyakit kanker. Kognisi : “saya seorang perokok” tidak sesuai dengan kognisi “merokok dapat mengakibtakan penyakit kanker”, karena itu membuat keadaan disonansi.
Disonansi menghasilkan suatu ketegangan psikologis yang mendorong seseorang mengurangi disonansi tersebut. Pengurangan disonansi dapat melalui tiga cara, yaitu :
1)      Mengubah elemen tingkah laku
Misalnya, seorang perokok yang mengetahui bahaya merokok yang dapat mengakibatkan penyakit kanker. Maka untuk menghilangkan disonansi, perokok itu berusaha tidak merokok lagi.
2)       Mengubah elemen kognitif lingkungan
Misalnya, perokok itu meyakinkan teman – temannya / saudara – saudaranya bahwa merokok itu tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.
3)       Menambah elemen kognitif baru
Misalnya, mencari pendapat teman lain yang mendukung pendapat bahwa merokok tidak akan mengakibatkan penyakit kanker.[11]
3. Teori persepsi diri
Teori ini berfokus pada individu yang mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi. Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.
Misalnya, seseorang yang awalnya tidak bisa memasak tapi ia memasak setiap ada kesempatan dan ia baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak.[12]
4. Teori presentasi diri
Menurut teori ini, orang memiliki sutau kebutuhan untuk mengabsahkan aspek – aspek penting dari konsep dirinya, terutama jika konsep dirinya terancam. Teori ini secara aktif mengelola self – image atau kesan yang mereka berikan kepada orang lain.[13]
5. Teori ekspektasi nilai
Teori ini mengasumsikan bahwa orang mengadopsi posisi (pandangan) berdasarkan penilaian pro dan kontra (untung – rugi), yakni berdasarkan nilai yang mereka berikan pada kemungkinan efeknya. Menurut teori ini, dalam pengadopsian sikap, orang cenderung memaksimalkan penggunaan subjektif atas berbagai hasil yang diperkirakan, yang merupakan produk dari nilai hasil tertentu dan pengharapan (ekspetandi) bahwa posisi ini akan menimbulkan hasil yang bagus itu. Misalnya, Anda akan menentukan apakah Anda akan mendatangi pesta teman Anda nanti malam atau belajar di rumah. Anda mungkin memikirkan berbagai macam akibat atau kegiatan jika pergi ke pesta, nilai tentang akibat itu, dan pengharapan tentang akibat atau hasil itu.
Ringkasnya, teori ekspetansi nilai melihat pada keseimbangan insentif dan memprediksikan bahwa dalam situasi di mana ada tujuan yang saling bertentangan, orang akan memilih posisi yang memaksimalkan keuntungan buat mereka. Teori ini mengasumsikan bahwa orang adalah pembuat keputusan yang penuh perhitungan, aktif, dan rasional (Sears, 2009).[14]
Dilihat dari strukturnya, sikap terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang, yaitu :[15]
1. Komponen Kognitif
Komponen ini berisi persepsi, kepercayaan dan stereotype (sesuatu yang telah terpolakan) yang dimiliki individu mengenai sesuatu.
Mengapa orang percaya atau mempunyai kepercayaan ?
Kepercayaan dating dari apa yang telah kita lihat/ketahui. Berdasarkan apa yang telah kita lihat itu, kemudian terbentuk suatu ide/gagasan mengenai sifat umum suatu obyek. Karena itulah kita percaya; misalnya burung dapat bertelur, sekali kepercayaaan itu telah terbentuk, maka ia akan manjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang diharapkan dan apa yang tidak diharapkan dari obyek tertentu.
Kepercayaanlah yang menyederhanakan dan mengatur apa yang kita lihat dan temui.
Contoh :
Durhaka pada orang tua sebagai obyek sikap. Komponne kognitif sikap berupa kepercayaan atau stereotype bahwa durhaka pada orang tua adalah berdosa atau tidak baik.
2. Komponen Afektif
Merupakan perasaan individu terhadap obyek sikap, obyek dapat dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai dsb.
Apakah yang menentukan reaksi emosional kita terhadap suatu obyek sikap? Jawabannya adalah banyak ditentukan oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar obyek tersebut.
Contoh :
Bila kita percaya bahwa durhaka pada orang tua itu dosa; maka akan terbentuk perasaan tidak suka terhadap perbuatan tersebut.
3. Komponen Perilaku/Konatif
Menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada pada diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapinya.
Asumsi dasarnya adalah bahwa kepercayaan dan perasaan mempengaruhi perilaku. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan ini membentuk sikap individual. Karena itu adalah logis untuk mengharapkan bahwa sikap seseorang akan dicerminkannya dalam bentuk perilaku terhadap obyek.
Contoh :
Kita percaya durhaka pada orang tua itu dosa dan tidak baik maka kita tidak akan suka akhirnya kita tidak mau berbuat seperti itu.
Salah-satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku manusia adalah  masalah pengungkapan (assement) atau pengukuran (measurement) sikap. Dalam sikap terdapat :
1) Sikap mempunyai arah, artinya sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, apakah mendukung atau tidak mendukung, apakah memihak atau tidak memihak terhadap sesuatu seseorang sebagai objek.
2) Sikap memiliki intensitas, artinya kedalaman atau kekuatan sikap terhadap sesuatu belum tentu sama walaupun arahnya mungkin tidak berbeda.
3) Sikap mempunyai keluasaan,maksudnya kesetujuan atu ketidaksetujuan terhadap suatu obyek sikap dapat mengenai hanya yang sedikit dan sangat spesifik akan tetapi dapat mencakup banyak sekali aspek yang ada dalam obyek sikap.
4) Sikap juga memiliki konsistensi, maksudnya kesesuaian antara pernyataan sikap yang dikemukakan dengan responsnya terhadap objek sikap tersebut.
5) Sikap yang memiliki spontanitas, artinya menyangkut sejauhmana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan.[16]
D. Ciri-ciri (indikator) dari Sikap
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu. Walaupun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri manusia itu. Oleh karena itu untuk membedakan sikap dengan pendorong-pendorong yang lain, ada beberapa ciri atau dari sifat dari sikap tersebut. Adapun ciri-ciri sikap itu adalah :
  1. Sikap itu tidak dibawa sejak lahir
Ini berarti bahwa manusia pada waktu dilahirkan belum membawa sikap-sikap tertentu terhadap sesuatu objek. Karena sikap tidak dibawa sejak indiviu dilahirkan, ini berarti bahwa sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena sikap itu terbentuk dan di bentuk, maka sikap itu dapat di pelajari, dan karenanya sikap itu dapat berubah. Walaupun demikian sikap itu mempunyai kecenderungan adanya sifat yang agak tetap.
Karena sikap itu tidak dibawa sejak lahir, maka sikap sebagai daya dorong akan berbeda dengan motif biologis yang juga sebagai daya dorong, karena yang akhir ini telah ada sejak individu dilahirkan sekalipun motif tersebut dalam manifestasinya mengalami perubahan-perubahan.
  1. Sikap itu selalu berhubungan dengan objek sikap
Oleh karena itu sikap selalu terbentuk atau I pelajari dalam hubunganya dengan objek-objek tertentu, yaiu melalui proses persepsi terhadap objek tersebut. Hubungan yang positif atau negatif antara individu dengan objek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula dari individu terhadap objek tersebut.
  1. Sikap dapat tertuju pada satu objek satu aja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan objek-objek
Bila seseorang mempunyai sikap yang negatif pada seseorang, orang tersebut akan mempunyai kecenderungan untuk menunjukkan sikap yang negatif pula kepada kelompok di mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan untuk menggeneralisasikan objek sikap.
  1. Sikap itu dapat berlangsung lama atau sebentar
Kalau sesuatu sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang, secara relatif sikap itu akan lama bertahan pada diri orang yang bersangkutan. Sikap tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap itu belum begitu mendalam ada dalam diri seseorang, maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah berubah.
  1. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi
Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu objek tertentu akan selalu diikuti oleh perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap objek tersebut. Disamping itu sikap juga mengandung motivasi, ini berarti bahwa sikap itu mempunyai daya dorong bagi individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap objek yang dihadapinya[17]
Ciri-ciri tersebut diatas merupakan ciri-ciri sikap yang adapat di gunakan untuk membedakan sikap dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri manusia.


[1] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003)hlm. 161
[2] Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung : CV Pustaka Setia 2003) hlm. 355.
[3] Diterjemahkan Michael Adryanto dan Savitri Soekrisno, Psikologi Social (Social Psichology), (Jakarta : Erlangga, 1985)hlm. 137
[4] Shelley E Taylor dkk, Psikologi Sosial, (Jakarta : Kencana, 2009)
[5] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), (Yogyakarta : CV Andi Offset 2003)hlm. 123
[7] ibid
[8]Slameto, Belajar Dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2003)hlm. 189
[9]http://lalisnurhayatiii.blogspot.com/2013/05/psikologi-sosial-tentang-sikap.html (di akses 08 Desember 2013)
[11] Ibid.
[12] Ibid.
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] http://himcyoo.wordpress.com/2011/02/22/pengukuran-sikap-attitude/
[17] Bimo Walgito. Psikologi Sosial (suatu pegantar), (Yogyakarta :CVAndi Offset)hlm. 131.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar